Skip to main content

Ke Kebumen Kita


Yes...! Anak-anak akan kami bawa ke tanah leluhur mereka di Kebumen. Akhirnya setelah sekian lama menanti. Mumpung mereka masih bisa diajak kemana-mana. Mumpung mereka masih bergantung sama emak bapaknya kan, ya? Karena cerita liburan keluarga akan berbeda jika kerucil-kerucil itu sudah mulai besar. Jadi kami memang sebisanya memaksakan libur bersama meskipun cuti hanya tersisa dua hari. Dua hari ke Kebumen? Yakin? Pertanyaan itu terlontar dari mulut Agus, rekan kerja saya,  ketika kemarin lembar pengajuan cuti saya perlihatkan kepadanya sebelum diajukan ke kepala kantor. Mungkin dipikirnya saya nekat. Hahaha...! Memang nekat sih. Agus pasti sudah mengantongi perhitungan waktu ideal keliling Jawa dalam liburan keluarga yang seru. Pengalaman liburan serunya bersama Yuli dan Kana ke Jawa bisa dijadikan referensi yang oke punya. Tapi Gus, liburan kali ini fokus kami hanya Kebumen dan Sidareja saja, Bro. Selain itu, apa yang harus saya risaukan jika bapaknya anak-anak bisa menjamin liburan kami ini akan berjalan dengan baik walaupun cuti nyonya umurnya sama dengan waktu lapor tamu ke ketua RT. 2 x 24 jam toh?

Sebenarnya sudah lama kami ingin menapaktilasi tanah kelahiran bapak dan ibu mertua.  Namun berbagai hal menjadi aral yang belum memungkinkan kami untuk mewujudkannya. Alhamdulillah di awal tahun ini keluarga besar suami mematangkan rencana mudik bersama. Rembukan keluarga besar dengan mempertimbangan cuti si anak rantau ini agaknya menjadikan akhir pekan minggu ketiga Desember sebagai waktu yang paling tepat untuk bertolak ke tanah kelahiran bapak dan ibu.


Comments

Popular posts from this blog

Sampai Jumpa, Angga

Sabtu pagi, 24 Mei 2020, pukul 07.22 ia masih melakukan panggilan video ke ponselku, namun tak terangkat. Kami bertemu dalam panggilan video selanjutnya melalui ponsel ibuku sekitar pukul 09.00 di rumah Jatra, rumah yang melengkapi puzzle masa kecilnya, rumah tempat ia pulang tiga tahun lalu. Ada yang berbeda pada wajahnya di lebaran pertama itu. Lebih tirus dan pasi. Kulihat kilauan buliran keringat di keningnya. Rambutnya basah. Jelas ia sedang tidak begitu sehat. Pun begitu, setiap kata, senyum, dan deraian tawanya tetap menyegarkan. Kami saling memohon maaf. Ia berbicara sambil merangkul maminya.  "Uni, maafkan Angga lahir batin ya, Ni. Insyaallah kita nanti ketemu di Jambi,"ucapnya sembari melambaikan tangan gempalnya.  "Iya. Uni tunggu, ya." "Insyaallah, Ni,"pungkasnya sebelum ia menepi dan membiarkan maminya berbicara. Sapa, maaf, dan tawa mengalir ke satu-persatu pasukan Pakis 74.  "Uni, bisakan kami nginap di ru

Friends of Mine

They are special, They are friends of mine, Who coloring my life canvas with thousand rainbows, even in the winter... when the snowstorm said hello out side the window, and the Holland's skies were gray, it's my friends who make the snow turns to sunlight, and bring blue to my sky. *( Hanya berselang beberapa jam dari Mario Teguh. Melintas bayangan kebersamaan dari Manggarai-Bandung, Manggarai-Depok, Soekarno-Hatta-Schiphol, Amsterdam-Zurich, Eindhoven-Paris, Nijmegen-Achen,etc...! With love and laugh, for sure...... )

Witir Si Sulung

Malam Kamis kemarin, anak bujang kecil saya melakukan sesuatu yang membesarkan hati saya, ibunya. Saya seketika merasa teramat mujur. Malam itu seperti malam-malam yang lain. Pukul delapan adalah waktu tidurnya. Waktunya kami berbaring. Waktu yang selalu ia gunakan memeluk saya erat-erat. Waktunya saya tak putus-putus menciumi wajah dan kepalanya. Waktu saat saya membacakan kisah-kisah teladan Muhammad dan sahabat-sahabat beliau sebelum akhirnya ia lelap. Kami sudah di tempat tidur, berpelukan, saat ia sekonyong-konyong duduk dan bergerak turun.  "Hamzah mau ambil wudu dulu..." "O, iya...Bilal selalu melakukan itukan, ya..."ujar saya. Saya buntuti ia ke kamar mandi. Saya perhatikan dengan saksama ia membasuh wajah, tangan, kepala, telinga, dan kakinya.  Ia tersenyum.  "Witir tiga rakaat boleh, Bun?"tanyanya. Saya termangu. Ia bingung. Mengapa ibunya mendadak hening? "Bun..."panggilnya sambil menempelkan kepalanya di