Skip to main content

Laki-Laki di Pintu Itu

Laki-laki itu berdiri di pintu.  Seperti biasanya, ia tidak melangkah masuk, melainkan menunggu dengan tangan terbuka, bersiap memeluk sepasang jiwa kecilnya yang akan menghambur ke dalam pelukannya.  Masih saja seperti dulu.  Kehangatannya pada anak-anak tak pernah berubah.  Anak-anak tidak pernah melihat ia sebagai sosok yang garang.  Tidak pernah.

Laki-laki itu masih berdiri di pintu.  Bahkan ketika pelukan dari sepasang jiwa kecilnya telah usai.  Tangannya tidak terkembang seperti tadi.  Melainkan kuyu, layu pada masing-masing sisi badannya.  Pendaran cahaya matanya masih sama.  Tetapi kali ini sorot itu berasal dari sepasang mata cekung.  Entah ia menunggu apa.  Entah mungkin ia masih menduga akan ada pelukan lain yang akan menghambur ke dalam dadanya.  Entahlah.

Laki-laki itu masih berdiri di pintu.  Bahkan ketika ia bisa memastikan pupusnya asa akan pelukan dari yang dulu pernah dinisbatkannya sebagai yang tercinta.  Ia berusaha berlapang dada tetapi tidak pernah akan mencoba untuk mengerti karena memang semuanya wajar menurutnya. 

Laki-laki itu akhirnya melangkah masuk.  Menyapa.  Bertanya kabar belahan jiwanya yang belum lagi bisa dilihatnya rupanya seperti apa.

Dan perempuan yang berdiri menyambutnya dengan terpaku, yang enggan melabuhkan pelukan di dada yang dulu membuatnya merasa yang paling dicintai, bergumam di dalam hati.

 "Ia begitu kurus.  Tidak bisakah perempuan itu merawatnya dengan baik?"

 

Comments

Popular posts from this blog

Senin, 13 Juni 2016; 22.14 WIB

Alhamdulillah sudah ditamatkannya Iqra 1 semalam di bilangan usianya yg baru 4 tahun 3 bulan 11 hari.  Sudah dengan lancar dibacanya seluruh deretan huruf Hijaiyah dengan susunan runut, acak, maupun dr belakang. Bukan hal yg istimewa utk Musa sang Qori dari Bangka Belitung mungkin, tetapi ini menjadi berkah luar biasa untuk kami. Semoga Allah selalu memudahkanmu untuk menyerap ilmu-ilmu Islam berdasarkan Quran dan teladan Rasulullah ya, Nak. Semoga ilmu-ilmu itu nanti senantiasa menjadi suluh yg menerangi setiap langkahmu dlm menjalani kehidupan ke depan dengan atau tanpa ayah bunda. Semoga juga ilmu itu tak hanya menjadikanmu kaya sendiri, tetapi membuat orang-orang disekelilingmu pun merasakan manfaatnya karena ilmu yg bermanfaat itu adalah ilmu yg bisa diberikan dan bermanfaat bagi orang lain di luar dirimu. Allah Maha Mendengar. Dengan doa dan pinta Bunda, Allah pasti akan mengabulkannya. Amin. 😍

MiSo Bening

Ingin berkeringat pagi-pagi? Ayo ikut ke warung Soto Mie Bening di depan Kantor Gerindra, tak begitu jauh dari POM bensin depan IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Hanya selemparan batu saja jauhnya dari sana. Dijamin akan berkeringat ketika menyantap soto dengan aroma rempah yang berpadu dengan paru goreng setengah kering, disiramkan ke dalam mangkok dengan mie kuning dan putih di dalamnya. Apa yang spesial dari soto mie ini? Sekilas memang biasa saja. Tetapi tak mudah untuk mencari tempat makan yang menjual soto mie bening seperti ini. Dari segi rasa pun teruji. Segar. Rempahnya terasa. Mie kuning basah, mie putih, sejumput tauge, irisan paru setengah kering, daun seledri, disiram kuah panas, dan taburan bawang goreng crispy. Suedap! Seringnya juga penikmat soto ini akan memasukkan bakwan, risol, tahu, atau tempe goreng yang juga dijual di warung tersebut ketika soto telah berkurang setengah porsi. Gorengan tadi akan di campur ke dalam kuah soto untuk disantap. Singkatn...

Tentang Ibu (1)

Ada yang berubah dari Ibu.  Perubahan yang membahagiakan. Kerinduannya yang terobati pada tanah suci, Kabah, dan makam Rasulullah telah membuat Ibu kembali seperti tahun-tahun sebelum 2016.  Ibu kembali sehat. Lahir dan batin. Setelah hampir tiga minggu Ibu bersama kami, baru malam lusa kemarin saya lama bercengkerama di kamar beliau. Izzati belum mengantuk.  Jadi sengaja saya membawa cucu bungsunya itu bermain-main di tempat tidur beliau.  Sambil bermain dengan Izzati, saya bertanya tentang banyak hal mengenai kepergiannya ke tanah suci di awal 2017 kemarin. Ibu begitu bersemangat menceritakan pengalamannya.  Posisinya yang semula duduk, berganti menjadi berdiri.  Tangannya bergerak lincah memperjelas berbagai kegiatan yang dilakukannya di sana. Matanya berbinar-binar. Air mukanya berseri-seri. Tak terbayangkan skala kebahagiaan yang melingkupi hatinya ketika menjejaki Baitullah. Ibu kami memang sudah lama sekali ingin ke Kabah. Semasa almarhum Bapak...