Skip to main content

Posts

Showing posts with the label wanita

Laki-Laki Sejati

".......karena seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap perempuan anakku, dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati" (Putu Wijaya dalam Laki-Laki Sejati)

High Heeled Warriors

Selesai menunaikan tugas rutin di pagi hari (menyiapkan pakaian kerja suami, pakaian sekolah Rio, dan duduk manis menemani Rio sarapan), berlanjut dengan sedikit ME TIME sebelum lanjut ke dapur dan bersiap-siap ngantor. Buka kompas elektronik sambil ngeteh dan baca-baca cepat, lucky me bertemu yang satu ini. HIGH HEELED WARRIORS. Apa itu HHW? Let's check it out! You, guys, might be one of them. Thus, there is no excuse not to be proud of yourself. Kompas.com- Studi psikografi terkini terhadap perempuan Asia yang diadakan oleh Universal Networks International bekerja sama dengan Synovate menghasilkan potret perempuan urban modern yang unik. Universal Networks International (UNI) menyebutnya sebagai High Heeled Warriors, yakni potret perempuan yang menghadapi berbagai tugas dan harapan, tetapi menjalaninya dengan kekuasaan, kecerdasan, dan kemampuan yang kian meningkat. Riset High Heeled Warriors di Asia ini menggambarkan perempuan yang berambisi dalam karier, juga k...

Tentang Upik

("Kasih Ibu" taken by Theo Widharto) Sejauh yang ku bisa ku ingat, tidak pernah meluncur dari bibir keringnya sebuah ucapan syukur atau hamdalah. Di usia kepala empatnya dengan empat anak gadis yang harus dihidupi ditambah pula seorang suami yang pemalas, seperti menjadi sebuah alasan yang bisa dibenarkan atas mahalnya sebuah pujian pada Tuhan yang keluar dari bibir kerontangnya itu. Di pinggir pintu gang dengan sebuah warung berukuran 2 x 1.5 meter, dilengkapi dengan beberapa barang untuk dijual, diwarung itu dilabuhkannya pengharapan receh demi receh uang dari setiap pembeli yang mampir untuk sekedar membeli rokok, permen, roti, atau segelas kopi dari tukang ojek yang mangkal tak jauh dari warung papannya. Di warung itu tak banyak senyum yang diberikannya. Mungkin di dalam penglihatannya, memang tidak ada yang harus disenyumi. Kalaupun harus membalas senyum dari sapa yang mengenainya, itu hanya sebuah kewajiban. Tak tulus sepertinya. Karena senyumnya hambar. ...