Cinta ini benar-benar aneh, Nak. Lebih dahsyat dari apa yang diistilahkan dengan cinta pada pandangan pertama. We haven't met each other. Belum ku tahu seperti apa wajahmu. Tangis pertamamu pun tak bisa ku kira-kira seperti apa nanti, tetapi hati ini telah kau miliki. Cinta ini benar-benar aneh. Dalam hal ini, beruntunglah aku dilahirkan sebagai perempuan karena Tuhan kita memberikan kemampuan mencintaimu sedari wujudmu tiada.Jauh sebelum kau ada dalam wujud nyata sebuah noktah pada layar TV sebagai hasil pemindaian kecanggihan teknologi itu, jauh sebelum namamu ku rangkai sedemikian rupa kata demi kata dengan menilik satu persatu maknanya, jauh sebelum Tuhan kita memutuskan roh yang mana yang akan ditiupkannya pada noktah di dalam rahim perempuan ini yg kelak akan kau panggil Bunda, aku sudah mencintaimu tanpa cela. Sebenar-benarnya cinta.
Sabtu pagi, 24 Mei 2020, pukul 07.22 ia masih melakukan panggilan video ke ponselku, namun tak terangkat. Kami bertemu dalam panggilan video selanjutnya melalui ponsel ibuku sekitar pukul 09.00 di rumah Jatra, rumah yang melengkapi puzzle masa kecilnya, rumah tempat ia pulang tiga tahun lalu. Ada yang berbeda pada wajahnya di lebaran pertama itu. Lebih tirus dan pasi. Kulihat kilauan buliran keringat di keningnya. Rambutnya basah. Jelas ia sedang tidak begitu sehat. Pun begitu, setiap kata, senyum, dan deraian tawanya tetap menyegarkan. Kami saling memohon maaf. Ia berbicara sambil merangkul maminya. "Uni, maafkan Angga lahir batin ya, Ni. Insyaallah kita nanti ketemu di Jambi,"ucapnya sembari melambaikan tangan gempalnya. "Iya. Uni tunggu, ya." "Insyaallah, Ni,"pungkasnya sebelum ia menepi dan membiarkan maminya berbicara. Sapa, maaf, dan tawa mengalir ke satu-persatu pasukan Pakis 74. "Uni, bisakan kami nginap di ru...
Comments
Post a Comment