Hidayah itu untuk siapa saja yang dikehendaki-Nya. Seperti yang terjadi pada dr. Anne Coxon, seorang mawar klasik Inggris yang cantik, berambut pirang dan bermata biru. Kristiane Backer menyebutnya begitu. Hidayah itu mendatangi psikiater tsb secara intuitif. Percaya dan ia pelajari serta dalami setelahnya, sementara yang lain mendapatkan hidayah dengan cara sebaliknya. Hidayah yang datang secara intuitif ataupun yang diraih secara empiris, seperti dr. Amina (Anne Coxon) dan Kristiane Baker, toh sesungguhnya keduanya saling melengkapi untuk sebuah pembuktian bahwa ternyata Allah itu memang ada.
Sabtu pagi, 24 Mei 2020, pukul 07.22 ia masih melakukan panggilan video ke ponselku, namun tak terangkat. Kami bertemu dalam panggilan video selanjutnya melalui ponsel ibuku sekitar pukul 09.00 di rumah Jatra, rumah yang melengkapi puzzle masa kecilnya, rumah tempat ia pulang tiga tahun lalu. Ada yang berbeda pada wajahnya di lebaran pertama itu. Lebih tirus dan pasi. Kulihat kilauan buliran keringat di keningnya. Rambutnya basah. Jelas ia sedang tidak begitu sehat. Pun begitu, setiap kata, senyum, dan deraian tawanya tetap menyegarkan. Kami saling memohon maaf. Ia berbicara sambil merangkul maminya. "Uni, maafkan Angga lahir batin ya, Ni. Insyaallah kita nanti ketemu di Jambi,"ucapnya sembari melambaikan tangan gempalnya. "Iya. Uni tunggu, ya." "Insyaallah, Ni,"pungkasnya sebelum ia menepi dan membiarkan maminya berbicara. Sapa, maaf, dan tawa mengalir ke satu-persatu pasukan Pakis 74. "Uni, bisakan kami nginap di ru...

Comments
Post a Comment