Skip to main content

Meet Plasmodium (Again)...???

Mulai lagi!

Mulai lagi berasa kayak tidur di musim dingin yang super dingin.  Suhu dipasang cuma 25 derajat celcius, sudah berada di bawah selimut, sudah pula meringkuk sambil meluk Hamzah, tetapi tetap juga duingin.Telapak kaki terasa membeku. Pelukan suami juga tidak berpengaruh apa-apa.

Paginya, kepala mulai terasa berat. Menjelang siang (seperti ketika sedang nulis ini) mata juga seperti diganduli besi (meminjam kosakata Mas Min) dan suhu badan mulai meningkat.  Kalau dilihat sepintas sih memang tidak akan yang tau, karena masih juga pecicilan, ketawa-ketiwi, sibuk dengan laptop sendiri, dan suara masih lantang aja kalau ngobrol.  Padahal sedang greges-gregesnya.  Well...plasmodium itu sepertinya aktif lagi.  Sudah bosan tidur terus kali ya di limfa selama bertahun-tahun.  Atau mungkin jangan salahkan si plasmodium juga.  Virus itu bakal tetap damai tidur di limfa kalau kondisi tubuh fit. Nah..masalahnya...belakangan memang badan ini diporsir untuk melakukan kerjaan ekstra.  Sebenarnya tidak dipaksa juga sih.  Dengan senang hati malah kerjanya.  Semua urusan rumah dihandle sendiri.  Mungkin jam tidur yang kurang yang menjadi sumber masalahnya. 

Kalau sudah begini susah juga mencari solusinya selain mencari seorang asisten rumah tangga yang bisa menangani sebagian pekerjaan rumah.  Mungkinkah? Mengingat banyak teman-teman sekantor dan diluar kantor yang selalu mengeluh dengan segala tingkah polah dan hasil kerjaan asisten rumah tangga mereka.  Ujung-ujungnya kebanyakan dari mereka justru turun tangan juga menyelesaikan apa yang seharusnya sudah menjadi tugas si asisten tersebut.  Atau mungkin...begini (haha...tanya sendiri...jawab sendiri), manajemen waktu aja yang harus diperbaiki kali ya.  Diusahakan gimana caranya agar jam tidur bisa cukup. Bisa kah?  Harus bisa! Trus kerjaan rumah yang tiada pernah habisnya? Diakalin aja, diprioritaskan mana yang bisa dikerjaan pada akhir pekan jadi ga harus lembur. 

Comments

Popular posts from this blog

Sampai Jumpa, Angga

Sabtu pagi, 24 Mei 2020, pukul 07.22 ia masih melakukan panggilan video ke ponselku, namun tak terangkat. Kami bertemu dalam panggilan video selanjutnya melalui ponsel ibuku sekitar pukul 09.00 di rumah Jatra, rumah yang melengkapi puzzle masa kecilnya, rumah tempat ia pulang tiga tahun lalu. Ada yang berbeda pada wajahnya di lebaran pertama itu. Lebih tirus dan pasi. Kulihat kilauan buliran keringat di keningnya. Rambutnya basah. Jelas ia sedang tidak begitu sehat. Pun begitu, setiap kata, senyum, dan deraian tawanya tetap menyegarkan. Kami saling memohon maaf. Ia berbicara sambil merangkul maminya.  "Uni, maafkan Angga lahir batin ya, Ni. Insyaallah kita nanti ketemu di Jambi,"ucapnya sembari melambaikan tangan gempalnya.  "Iya. Uni tunggu, ya." "Insyaallah, Ni,"pungkasnya sebelum ia menepi dan membiarkan maminya berbicara. Sapa, maaf, dan tawa mengalir ke satu-persatu pasukan Pakis 74.  "Uni, bisakan kami nginap di ru...

Senin, 13 Juni 2016; 22.14 WIB

Alhamdulillah sudah ditamatkannya Iqra 1 semalam di bilangan usianya yg baru 4 tahun 3 bulan 11 hari.  Sudah dengan lancar dibacanya seluruh deretan huruf Hijaiyah dengan susunan runut, acak, maupun dr belakang. Bukan hal yg istimewa utk Musa sang Qori dari Bangka Belitung mungkin, tetapi ini menjadi berkah luar biasa untuk kami. Semoga Allah selalu memudahkanmu untuk menyerap ilmu-ilmu Islam berdasarkan Quran dan teladan Rasulullah ya, Nak. Semoga ilmu-ilmu itu nanti senantiasa menjadi suluh yg menerangi setiap langkahmu dlm menjalani kehidupan ke depan dengan atau tanpa ayah bunda. Semoga juga ilmu itu tak hanya menjadikanmu kaya sendiri, tetapi membuat orang-orang disekelilingmu pun merasakan manfaatnya karena ilmu yg bermanfaat itu adalah ilmu yg bisa diberikan dan bermanfaat bagi orang lain di luar dirimu. Allah Maha Mendengar. Dengan doa dan pinta Bunda, Allah pasti akan mengabulkannya. Amin. 😍

Hamzah di 1 Ramadan 1440

Ramadan hari pertama, Hamzah alhamdulillah dapat selesai sampai akhir. Tidak terhitung berapa kali ia menanyakan waktu berbuka. "Masih lama ya, Bun?", "Hamzah haus sekali. Gimana nih?", "Berapa jam lagi bukanya?", "Hamzah rasanya mau minum...", dan lain sebagainya.  Dengan es krim sebagai hadiah jika puasanya dapat bertahan sampai magrib, anak saleh kami itu pun kuat juga akhirnya.  Tahun lalu ia berpuasa hingga tiga hari di awal Ramadan kalau saya tidak salah. Tahun ini semoga ia bisa berpuasa hingga Ramadan usai. Kami ingin ia dapat memaknai setiap haus dan lapar yang dirasakannya dari pagi hingga menjelang matahari tergelincir di lengkung langit. Kami ingin ia dalam sebulan ini mencoba menjadi anak-anak yang tak seberuntung dirinya. Kami ingin Hamzah selalu ingat bahwa Allah telah memberikannya banyak nikmat. Kenikmatan yang tidak semua anak bisa merasakannya. Kami ingin ia bertumbuh dengan kemampuan berempati terhadap berbagai kes...