Belajar bersyukur dari catatan Asma Nadia: Belum lama ini seorang ibu menelepon saya, menceritakan kesedihannya. Hidupnya tidak bahagia karena suami yang terkesan nggak peduli, nyaris tidak ada lagi komunikasi yang berarti. Ada masalah lain, hutang yang entah bagaimana menumpuk besar, dan suami menyalahkan istri dan tidak mau membantu melunasi. Di tengah masalah ini, ada teman sekantor, laki-laki yang mulai memberi perhatian dan tahu-tahu menjadi dekat dan membuatnya jatuh cinta. Dari sedikit usia yang telah saya lalui, saya belajar, bahwa kebahagiaan itu tidak jauh, dia ada di hati kita yang dipenuhi syukur. Kita sulit bahagia kalau setiap hari hanya melihat keluarga-keluarga lain yang bahagia dan melimpah secara materi lalu membandingkannya dengan diri, dan mulai menghitung kekurangan dalam diri, kekurangan dalam keluarga. Sibuk membuat list apa yang tidak kita miliki setiap hari. Bagaimana bisa bahagia, bagaimana bisa semangat untuk berbuat dan kreatif, juga membangun hari-hari yan...
"If you would be happy for a lifetime, grow Chrysanthemums," (an ancient Chinese philosopher)