Skip to main content

Posts

Mencari Hati yang Bahagia (catatan untuk perempuan: istri, ibu, dan siapa saja)

Belajar bersyukur dari catatan Asma Nadia: Belum lama ini seorang ibu menelepon saya, menceritakan kesedihannya. Hidupnya tidak bahagia karena suami yang terkesan nggak peduli, nyaris tidak ada lagi komunikasi yang berarti. Ada masalah lain, hutang yang entah bagaimana menumpuk besar, dan suami menyalahkan istri dan tidak mau membantu melunasi. Di tengah masalah ini, ada teman sekantor, laki-laki yang mulai memberi perhatian dan tahu-tahu menjadi dekat dan membuatnya jatuh cinta. Dari sedikit usia yang telah saya lalui, saya belajar, bahwa kebahagiaan itu tidak jauh, dia ada di hati kita yang dipenuhi syukur. Kita sulit bahagia kalau setiap hari hanya melihat keluarga-keluarga lain yang bahagia dan melimpah secara materi lalu membandingkannya dengan diri, dan mulai menghitung kekurangan dalam diri, kekurangan dalam keluarga. Sibuk membuat list apa yang tidak kita miliki setiap hari. Bagaimana bisa bahagia, bagaimana bisa semangat untuk berbuat dan kreatif, juga membangun hari-hari yan...

Bapak

Pertama kali bertemu dengan beliau disaat saya datang untuk menghadiri wisuda abang. Mengenakan batik khas Jawa dan kopiah hitam. Beliau sedang duduk di meja makan pagi itu. Senyum di raut setengah bayanya menyambut saya. Dijawabnya salam saya dengan bersahaja. Saya salami dan cium tangan beliau dengan takzim. Pagi itu kami tak sempat banyak bicara, karena saya begitu terburu-buru bersiap-siap untuk menghadiri acara wisuda abang yang tinggal satu jam lagi. Bus malam yang membawa saya dari Padang mengalami beberapa masalah dan jadilah sampai di tujuan menjelang pukul 9 pagi. Menghadapi bapak yang sebentar lagi akan menjadi calon mertua, terang membuat saya kikuk. Saya tanyakan kabar ibu dan saudara-saudara di Jakarta sambil memperhatikan perhatikan dengan seksama wajah beliau. Terlihat jelas gurat-gurat tegar dimasa mudanya dulu. Pertemuan kedua kami setahun berikutnya, disaat pernikahan akan diselenggarakan. Tak kikuk lagi tentunya. Bapak datang bersama ib...

Be Strong, Kawan.

Baru beberapa menit yang lalu mendapatkan kabar. Menyedihkan. Membuat air mata sungguh tak bisa terbendung turun. Dan tiba-tiba saja menjadi begitu bersyukur dengan nikmat sehat yang diberikan Allah SWT. Bersyukur juga tuhan memberikan kesempatan mengenalnya, tak begitu dekat, tapi kerap berkomunikasi dan berdiskusi tentang banyak hal. Tetapi kesedihan nyata diatas semua rasa syukur itu. Seorang teman pagi ini mengabarkan bahwa salah seorang teman kami dengan rela meninggalkan pekerjaannya yang bergengsi demi menjaga dan merawat sang istri yang sedang menderita kanker dan menjaga buah hati mereka dengan tangannya sendiri. Sebelumnya, sebelum datang kabar ini, sebelum benar-benar terjadi pada orang yang ku kenal, cerita-cerita senada, sepertinya hanya sebuah fiksi. Tak peduli sebagus dan sedalam apapun sentuhan diksi yang dipilih si penulis untuk membuat hati terenyuh. Tetapi ketika membaca surat elektronik yang masuk pagi ini, jari-jariku seperti membeku di atas ke...

Dahsyatnya Khasiat Wudhu

Oleh: Ahmad Wali Radhi dari blog http://www.dakwatuna.com/2 010/dahsyatnya-khasiat-wud hu/ Wudhu adalah ritual yang mengutamakan unsur kesehatan. Bagian-bagian yang dibasuh merupakan titik-titik penting peremajaan tubuh. Di lain pihak juga merupakan pintu masuk bagi ribuan kuman,virus, dan bakteri. Bagaimana wudhu menangkalnya? Stimulasi Titik Biologis Dalam sebuah artikel yang ditulis Dr. Magomedov,asisten pada lembaga General Hygiene and Ecology di Daghestan State Medical Academy dijelaskan bagaiman wudhu dapat menstimulasi/merangsang irama tubuh alami. Rangsangan ini muncul pada seluruh tubuh,khususnya pada area yang disebut Biological Active Spots (BASes) atau titik-titk aktif biologis. Menurut riset ini,BASes mirip dengan titik-titik refleksologi Cina. Bedanya,terang Dr. Magomedov,untuk menguasai titik-titik refleksi Cina dengan tuntas paling tidak dibutuhkan waktu 15-20 tahun. Bandingkan dengan praktik wudhu yang sangat sederhana. Keutamaan lainnya,refleksologi hanya b...

Di Leiden Ku Temukan Mereka

Yang pernah membacanya akan berkata bahwa roman ini indah. Dan aku yakin indah, ketika papa dan saudara-saudara beliau yang kesemuanya kutu buku, kecuali Pakcik Is si Bungsu, selalu bersemangat mengurai kisah dua sejoli Zainuddin dan Hajati. Bahkan Bundo Tati, kakak papa yang nomor empat selalu bilang, ini kisah klasik yang tak akan lekang dimakan zaman. Tetapi yakin saja tidak pernah cukup tanpa benar-benar pernah membacanya. Walhasil, pencarian roman klasik angkatan Pujangga Baru ini pun telah di mulai dari zaman kuliah di Padang. Sialnya tak pernah bersua. Mulai dari mencarinya di perpustakaan fakultas di belakang ruang sidang dekan, berlanjut ke perpustakaan pusat kampus, masih saja nihil. Sesaat terlupakan, tapi kemudian muncul kembali jika pulang ke Jambi dan berdiskusi tentang banyak hal dengan ayah tercinta, maka Hamka akan kembali muncul ke permukaan, dan otomatislah dua orang ciptaannya, Zainuddin dan Hajati, semakin membuat hati ingin mencari-cari. Kemana saja....

Seperti Khalifah Umar bin Khattab R.A.

Mbak Ning, wanita 'perkasa' yang ku akrabi justru disaat jauh dari rumah, mengirimkan notes nya. Kali ini bertopikkan puluhan baliho pasangan pejabat yang notabene juga mantan bupati atau pejabat tinggi di kabupaten atau kota yang sedang meramaikan setiap perempatan. Bukan hanya foto-foto mereka yang dipamerkan disetiap tempat yang bisa ditangkap oleh mata, tetapi juga janji-janji untuk mensejahterakan rakyatnya. Kelak. Jika terpilih. Dan jika betul-betul terpilih, maka janji tinggallah janji. Dan rakyat yang telah memilih? "Maaf, kalian kami kibuli!". Nasibmu rakyat! Miris dan jengah sendiri setelah membaca note nya Mbak Ning. Lalu tiba-tiba ingat cerita tentang Khalifah Umar bin Khattab R.A. yang dulu pernah disampaikan ayah setelah mengajarkan aku dan adik-adikku mengaji. Beliau pernah berkisah bahwa Khalifah Umar bin Khattab R.A. merupakan salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang digelari Al-Faruq, yang artinya orang yang dapat membedakan antar...

The Gift of The Magi

When love seems to know no bounds but sacrifice .... O'Henry One dollar and eighty-seven cents. That was all. And sixty cents of it was in pennies. Pennies saved one and two at a time by bulldozing the grocer and the vegetable man and the butcher until one's cheeks burned with the silent imputation of parsimony that such close dealing implied. Three times Della counted it. One dollar and eighty- seven cents. And the next day would be Christmas. There was clearly nothing to do but flop down on the shabby little couch and howl. So Della did it. Which instigates the moral reflection that life is made up of sobs, sniffles, and smiles, with sniffles predominating. While the mistress of the home is gradually subsiding from the first stage to the second, take a look at the home. A furnished flat at $8 per week. It did not exactly beggar description, but it certainly had that word on the lookout for the mendicancy squad. In the vestibule below was a letter-box into which no...